Syarat dan Ketentuan Haji Badal yang Perlu Anda Ketahui

Hukum dan syarat haji badal

Menunaikan ibadah haji merupakan kewajiban setiap muslim dalam menjalankan rukun islam yang terakhir. Lalu bagaimana jika seseorang meninggal karena sakit, miskin atau semacamnya, namun belum berhaji?

Disebutkan dalam hadits yang sahih, ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah untuk menceritakan hidupnya,

“Sungguh ada kewajiban yang mesti hamba tunaikan pada Allah. Aku mendapati ayahku sudah berada dalam usia senja, tidak dapat melakukan haji dan tidak dapat pula melakukan perjalanan. Apakah mesti aku menghajikannya?

“Hajikanlah dan umrohkanlah dia”, jawab Nabi Muhammad SAW  (HR. Ahmad dan An Nasai).

Dalam hadist ini kondisi orang tua dalam keadaan berumur senja serta tidak mampu lagi melakukan safar dan amalan haji lainnya.

Maka, orang tua tersebut wajib digantikan ibadah hajinya oleh keluarganya seperti anak laki-lakinya ataupun anak perempuannya untuk menghajikan orang tuanya sebagaimana dalam hadits yang telah diriwayatkan di atas. Ketika Rasulullah SAW memberikan jawaban, beliau bersabda “fahujji anhu” (maka hajikanlah dia olehmu)”.

Ibadah haji yang demikian dinamakan dengan haji badal.

Badal adalah menggantikan, yang berarti seseorang menggantikan haji dari orang yang seharusnya menunaikan ibadah haji disebabkan oleh faktor halangan, usia lanjut atau telah meninggal dunia. Seseorang tersebut seperti keluarga, anak, maupun ahli waris orang yang digantikan.

Namun demikian, para ulama menjelaskan bahwa dalam badal haji terdapat 3 syarat yaitu:

  1. Orang yang membadalkan adalah orang yang telah berhaji sebelumnya, sebagaimana niat untuk orang yang dibadalkan yaitu “Labbaika ‘an Syubrumah”.
  2. Orang yang dibadalkan telah meninggal dunia atau masih hidup namun tidak mampu berhaji karena sakit atau telah berusia senja.
  3. Orang yang dibadalkan tidak harus berjenis kelamin sama ataupun harus orangtuanya sendiri.
  4. Orang yang membadalkan hanya untuk satu orang karena ihram untuk sekali haji dan hanya menyebut satu orang
  5. Orang yang dibadalkan hajinya mati dalam keadaan Islam. Jika orang yang dibadalkan adalah orang yang tidak pernah menunaikan shalat seumur hidupnya, ia bukanlah muslim sebagaimana lafazh tegas dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, alias dia sudah kafir. Sehingga tidak sah untuk dibadalkan hajinya.
  6. Badal haji tidak dilakukan secara terpakasa dengan biaya badal haji dari kekayaan orang yang membadali, kecuali anak atau  saudara sukarela membiayai.

Niatan membadalkan haji bagi orang yang digantikan, tidak berpengaruh pada amalan orang yang digantikan. Bila orang tersebut meniatkan ibadah haji untuk orang lain, maka amal ibadah orang yang digantikan tersebut sesuai dengan amal yang telah dilakukannya sewaktu hidup di dunia. Insyaallah.

Editor: Setya Mahanani

Sumber: rumaysho.com dan republika.co.id

Linda Jaya

About Author

client-photo-1
Linda Jaya

Comments

Leave a Reply